DEMAK, 28 Januari 2026– Pendidikan bagi anak-anak di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kini harus dibayar dengan nyawa. Setiap hari, para siswa sekolah dasar (SD) terpaksa bertaruh keselamatan demi mencapai tempat pendidikan di area Kantor Desa Bedono akibat jalur utama yang rusak parah dan terancam abrasi.
Perjalanan pulang-pergi sekolah telah menjadi momok menakutkan bagi anak-anak di pesisir ini. Jalur yang menghubungkan Dukuh Tambaksari dengan pusat desa kini tak lebih dari tumpukan puing yang rentan diterjang air laut.
Kondisi geografis yang terdampak rob membuat tubuh-tubuh belia ini harus berjibaku dengan gelombang air laut yang sewaktu-waktu bisa menerjang mereka saat melintas. Tanpa adanya tanggul atau jalan yang layak, risiko terseret arus menjadi ancaman nyata setiap detiknya.
Kondisi ini menyulut amarah warga setempat. Mereka menyatakan bahwa jalur tersebut sudah lama mengalami kerusakan parah, namun hingga kini tidak ada upaya perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Demak.
Warga secara terang-terangan melontarkan kritik pedas kepada pimpinan daerah saat ini. Mereka merasa sejak pergantian kepemimpinan, wilayah mereka seolah dianaktirikan dan tidak tersentuh pembangunan infrastruktur sama sekali.
“Semenjak ganti Bupati, jalan ini tidak pernah tersentuh perbaikan. Kami menganggap Bupati tidak becus memimpin Demak,” cetus salah seorang warga dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi, Selasa (27/1/2026).
Warga menilai pemerintah seolah abai terhadap keselamatan generasi muda di Desa Bedono. Ketimpangan pembangunan di area pesisir dibandingkan dengan pusat kota menjadi poin utama yang disoroti warga.
Kini, warga hanya bisa berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah sebelum terjadi korban jiwa. Mereka menuntut perbaikan akses jalan yang permanen agar anak-anak mereka dapat berangkat dan pulang sekolah dengan rasa aman, tanpa harus bertaruh nyawa di tengah kepungan rob dan gelombang laut.
Terlihat anak-anak sekolah dasar masih mengenakan seragam, menenteng tongkat untuk mereka jadikan alat keseimbangan dalam mereka menyusuri jalan yang rusak parah akibat tak ada pemeliharaan dan perbaikan dari pemerintah kab Demak..











