SEMARANG, 9 Juni 2026 – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang oleh warga kerap disebut SPMB (Seleksi Penerimaan Murid Baru) di Jawa Tengah mulai diwarnai keluhan dari para orang tua calon siswa. Salah satu keluhan yang viral di media sosial datang dari seorang wali murid terkait carut-marutnya sistem antrean verifikasi berkas di SMA Negeri 11 Semarang.
Keluhan tersebut mencuat setelah akun Facebook bernama Barjo Saputra mengunggah curahan hatinya di grup publik MIK SEMAR (Media Informasi Kota Semarang). Dalam unggahan tersebut, ia meluapkan kekecewaannya terhadap pelayanan panitia dan petugas keamanan (satpam) sekolah yang dinilai memberikan informasi simpang siur dan tidak konsisten.
“Dari kejadian ini, kami sebagai orang tua merasa kecewa oleh pelayanan panitia SPMB yang ada di SMAN 11, khususnya kepada security-nya. Seharusnya komitmen oleh apa yang disampaikan, bukan mempermainkan. Dan seharusnya bisa menyampaikan informasi yang benar,” tulis akun Barjo Saputra dalam unggahannya.
Dalam postingan tersebut, Barjo menceritakan perjuangan anaknya yang harus berulang kali menelan kekecewaan selama berhari-hari demi mendapatkan nomor antrean verifikasi dan validasi dokumen:
Hari Kedua:Anak terhitung datang pukul 09.00 WIB, namun panitia mengonfirmasi bahwa nomor antrean sudah habis. Pihak keluarga masih memaklumi karena merasa datang terlalu siang.
Hari Ketiga: Sang anak berinisiatif datang jauh lebih pagi, yakni pukul 06.30 WIB. Ironisnya, nomor antrean kembali dinyatakan habis. Belakangan, ia mendapat informasi dari lapangan bahwa antrean bahkan sudah ludes sejak pukul 05.00 WIB.
Malam Hari Ketiga: Demi mencari kejelasan, Barjo mendatangi SMAN 11 Semarang pada malam hari untuk mengonfirmasi jadwal. Saat itu, petugas satpam yang berjaga menegaskan bahwa loket antrean baru resmi dibuka pukul 06.30 WIB.
Hari Keempat: Memegang informasi dari satpam, sang anak datang lebih pagi pada pukul 05.30 WIB (satu jam sebelum jadwal buka yang diinfokan). Namun secara mengejutkan, nomor antrean lagi-lagi dinyatakan sudah habis.
Ketidakselarasan informasi antara kondisi riil di lapangan dengan pernyataan petugas keamanan tersebut membuat orang tua merasa dipermainkan. Menurutnya, kesimpangsiuran ini sangat memukul mental anak-anak yang sedang berjuang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA negeri impian mereka.
“Mereka anak-anak hanya ingin menyambung cita-citanya, bukan untuk dipermainkan. Kepada panitia SPMB yang ada di SMAN 11 Semarang, tolonglah jangan permainkan anak-anak ini,” pungkasnya di akhir tulisan.
Unggahan di grup MIK SEMAR tersebut langsung mendapat respons dan perhatian dari netizen Semarang yang berharap ada evaluasi total dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan terkait pembatasan kuota harian serta transparansi sistem antrean agar tidak merugikan calon peserta didik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen maupun Panitia PPDB SMAN 11 Semarang belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan pelayanan yang disampaikan oleh warga tersebut. (TJ/Red)
Penulis : Agung
Editor : Redaksi











