Semarang – Suasana meriah menyelimuti Kelurahan Wonodri, Semarang Selatan pada Minggu, 3 Mei 2026. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-479, warga setempat menggelar perhelatan budaya bertajuk Festival Bubur Sendang sekaligus peresmian pugar Sendang Wonodri.
Acara yang dipusatkan di kawasan Sendang Wonodri ini tidak hanya sekadar seremonial, namun juga menjadi momentum membangkitkan memori kolektif warga akan sejarah lokal yang kuat.
Ketua RW 02 Wonodri, Budi, mengungkapkan bahwa Sendang Wonodri memiliki nilai historis yang luar biasa. Konon, sumber mata air ini pernah digunakan untuk mandi oleh Presiden ke-2 RI, Soeharto, saat masih menjabat.

Menurut sejarahnya, sendang ini dulu pernah disinggahi dan digunakan mandi oleh Pak Harto, ujar Budi di sela-sela acara.
Sedianya, peresmian sendang yang baru selesai dipugar ini akan dilakukan langsung oleh Walikota Semarang. Namun, karena berhalangan hadir, peresmian diwakilkan oleh Camat Semarang Selatan, Sunardi.
Kemeriahan acara sudah terasa sejak pagi hari. Warga tumpah ruah menyaksikan pembukaan yang menampilkan kesenian Jathilan dan Tari Kuda Lumping yang dibawakan dengan apik oleh pemuda-pemudi setempat.
Hadir pula tokoh-tokoh pemerhati budaya dari Mataram Agung Nusantara dan Kalacakra Underaning Jawa. Sebanyak 10 personel pemerhati budaya hadir dikoordinir oleh Ki Demang Cokro (Bopo Tarno), yang juga memberikan ular-ular atau pesan bijak sebagai pembuka acara.
Camat Semarang Selatan, Sunardi, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme warga Wonodri dalam menjaga tradisi di tengah gempuran era modern.
Saya sangat bangga, meski di zaman modern seperti sekarang, kepedulian warga terhadap budaya leluhur tetap tinggi. Ini adalah identitas kita, ungkap Sunardi kepada awak media.
Senada dengan Camat, Lurah Wonodri, Noor Chosim, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya uri-uri atau melestarikan budaya Jawa.
Sebagai orang Jawa, wajib hukumnya kita menjaga warisan ini. Melihat banyaknya warga yang hadir, saya optimis bahwa kepedulian terhadap budaya kita masih sangat kuat, tutur Noor Chosim.
Acara ditutup dengan khidmat melalui doa bersama yang dipimpin oleh Mbah Zainudin, Modin Kelurahan Wonodri. Selain dihadiri tokoh masyarakat, nampak pula unsur TNI/Polri yang ikut mengawal kelancaran acara festival yang menyatukan unsur religi, sejarah, dan seni ini
Penulis : Widi HWU
Editor : Redaksi











