SEMARANG – Menjelang suksesi pemilihan Ketua Forum Komunikasi Semarang Bersatu (FKSB), tokoh aktivis senior sekaligus Ketua LSM RPK-RI, Susilo H. Prasetiyo, menegaskan pentingnya penguatan peran FKSB sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Semarang. Ia menyoroti bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) harus mampu menjadi katalisator yang sinergis dalam mendukung pembangunan daerah.
Susilo, yang juga merupakan pendiri FORSOS (FORSOS FORUM SOLIDARITAS ORMAS SEMARANG), menyatakan bahwa keberadaan ormas adalah wadah aspirasi warga yang memiliki peran vital sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam pandangannya, Susilo merasa prihatin dengan kondisi internal FKSB saat ini yang dinilai terjebak dalam eksklusivitas. Menurutnya, pola pikir yang sempit dan ego kelompok telah menghambat efektivitas pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan publik.
“FKSB sudah berdiri cukup lama, namun saya melihat adanya hambatan dalam kerja sama sosial akibat pola kepemimpinan yang kurang merangkul. Kita butuh restrukturisasi untuk membawa era perubahan yang lebih modern dan universal, yang mampu menampung aspirasi semua golongan tanpa membeda-bedakan,” ujar Susilo, Kamis (16/4/2026).
Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah adanya persyaratan pemilihan yang dinilai menutup ruang bagi generasi muda potensial atau lembaga yang belum terdaftar di FKSB, meskipun lembaga tersebut sudah terdaftar resmi di Kesbangpol Kota Semarang.
Susilo menilai kebijakan tersebut sebagai tindakan yang menjurus pada arogansi kepatuhan dan pengambilan keputusan sepihak. Ia mendesak pihak Pemerintah Kota, khususnya Walikota dan Kepala Bakesbangpol Kota Semarang, untuk memberikan perhatian khusus terkait isu ini.
“Ormas memiliki fungsi sebagai edukator, agregator aspirasi, katalisator pembangunan, dan kontrol sosial. Saya meminta Pemerintah Kota sebagai pembina untuk menegur pihak FKSB jika terdapat sikap-sikap yang otoriter dalam lembaga sosial,” tegasnya.
Merujuk pada Perpu No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas, Susilo mengingatkan bahwa peran strategis FKSB seharusnya diarahkan untuk memperkuat kebangsaan, nasionalisme, dan menjaga kondusivitas keamanan (siskamtibmas) di Kota Semarang.
Ia berharap kepengurusan baru nanti dapat menumbuhkan toleransi, multikulturalisme, serta semangat “rembugan” untuk mencari persamaan persepsi dalam membangun bangsa.
“Pembangunan tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif masyarakat. Saya berharap pengurus FKSB yang sekarang maupun yang akan datang untuk legowo menerima pendatang baru. Mari kita satukan langkah, hilangkan eksklusivitas, dan fokus pada sinergitas untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Kota Semarang,” tutup Susilo.
Hingga berita ini diturunkan, proses suksesi di tubuh FKSB masih terus menjadi sorotan publik dan kalangan pegiat ormas di Kota Semarang.
Penulis : Dian
Editor : Redaksi











