Ramadan dalam Perspektif Budaya: Ki Cakra Panggilingan Tegaskan Harmoni Ibadah dan Kearifan Jawa

- Penulis

Rabu, 18 Februari 2026 - 15:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG, 18 Februari 2026 – Menjelang bulan suci Ramadan, Ketua Umum Yayasan Kalacakra Underaning Jawa, RT. Hendarto Widi Utomo, SE . atau yang akrab disapa Ki Cakra Panggilingan menekankan pentingnya memaknai puasa sebagai perpaduan luhur antara spiritualitas agama dan kekayaan budaya Nusantara.

Menurut Ki Cakra, Ramadan di Indonesia bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan ruang pertemuan antara hubungan vertikal dengan Tuhan (hablum minallah) dan horizontal dengan sesama (hablum minannas) yang dibalut kearifan lokal.

Dalam kacamata budaya Jawa, Ramadan dipandang sebagai laku prihatin atau tapa. Ini adalah proses pembersihan batin untuk mengendalikan hawa nafsu secara total.

“Menahan diri bukan hanya soal fisik, tapi juga menjaga amarah dan pamrih yang dapat mengeruhkan hati,” tutur Ki Cakra di Semarang.

Ki Cakra menegaskan bahwa nilai luhur Jawa selaras dengan tujuan Ramadan melalui konsep:

Memayu Hayuning Diri: Memperbaiki kualitas personal.

Memayu Hayuning Sasama: Menguatkan ikatan sosial.

Memayu Hayuning Bawono: Menjaga keseimbangan alam semesta.

Ia menyebut Ramadan sebagai momentum nyata untuk mempraktikkan harmoni tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Eksistensi tradisi seperti Megengan, Ziarah Kubur, dan Kenduri dinilai Ki Cakra sebagai bukti bahwa agama dan budaya saling menguatkan, bukan bertentangan. Tradisi ini merupakan bentuk refleksi diri, penghormatan kepada leluhur, serta sarana mempererat kerukunan masyarakat.

Memadukan puasa dengan konsep semedi atau tapa brata diyakini mampu menciptakan batin yang lebih jernih dan meningkatkan kesadaran spiritual (eling). Bagi masyarakat Jawa, Ramadan adalah waktu yang “sumurup” periode sakral di mana berkah dan pencerahan turun dengan getaran spiritual yang kuat.

Ki Cakra Panggilingan menyimpulkan bahwa Ramadan adalah jalan pemurnian peradaban. Dengan ibadah yang khusyuk dan batin yang halus, diharapkan tercipta masyarakat yang rukun serta diri yang kembali pada kesucian sejati.

 

Penulis : Agung

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendingjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peduli Akses Warga, PT Praba Mas Hill Tegaskan Komitmen Perbaiki Jalan Kali Pancur
407 Ton Solar Diamankan di Laut Semarang, Nama SRDMN dan PPT Mulai Disorot
TNI AL Amankan SPOB Nurfaiza 03, 407 Ton Solar Diduga Diangkut Tanpa Dokumen di Perairan Semarang
Bau Solar Menyengat Bikin Warga Resah, Rumah di Beringin Ngaliyan Diduga Jadi Tempat Penimbunan BBM Subsidi
Negara Jangan Cuma Pandai Berjanji! Aris Sudibyo Soroti Desil Bermasalah, Mawar Kehilangan Hak Pendidikan
Kangen Band Mendadak Dinyatakan Bubar, Dodhy Singgung Kezaliman Internal, Andika Mengaku Bingung
SPBN Bulu Jepara Disorot Nelayan, Penyaluran Solar Subsidi Diduga Dimonopoli Mafia BBM
Sidang Gardu Induk Jepara Memanas, Majelis Hakim Pertanyakan Data PLN dan Status Tanah
Berita ini 75 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 07:49 WIB

Peduli Akses Warga, PT Praba Mas Hill Tegaskan Komitmen Perbaiki Jalan Kali Pancur

Selasa, 22 September 2026 - 02:24 WIB

407 Ton Solar Diamankan di Laut Semarang, Nama SRDMN dan PPT Mulai Disorot

Senin, 21 September 2026 - 10:44 WIB

TNI AL Amankan SPOB Nurfaiza 03, 407 Ton Solar Diduga Diangkut Tanpa Dokumen di Perairan Semarang

Sabtu, 19 September 2026 - 07:23 WIB

Bau Solar Menyengat Bikin Warga Resah, Rumah di Beringin Ngaliyan Diduga Jadi Tempat Penimbunan BBM Subsidi

Sabtu, 19 September 2026 - 02:40 WIB

Negara Jangan Cuma Pandai Berjanji! Aris Sudibyo Soroti Desil Bermasalah, Mawar Kehilangan Hak Pendidikan

Berita Terbaru