BLORA, TRENDINGJATENG.COM– Puncak kemarahan masyarakat terhadap bobroknya infrastruktur jalan di Jawa Tengah kembali meledak. Hari ini, Minggu (31/5/2026) sore, warga Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, menggelar aksi protes keras dengan menanam pohon pisang dan menguruk paksa ruas jalan provinsi Randublatung – Cepu menggunakan batu grosok secara swadaya.
Aksi berani ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi. Warga merasa dianaktirikan karena jalan utama sepanjang kurang lebih 3 kilometer tersebut dibiarkan hancur bertahun-tahun hingga berubah menjadi jalur tengkorak yang kerap memakan korban.
Aksi yang sempat membuat arus lalu lintas tersendat ini menjadi panggung bagi warga untuk melayangkan kritik luar biasa pedas yang ditujukan langsung kepada Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi. Mereka mengingatkan dengan lantang bahwa seluruh gaji dan fasilitas yang melekat pada pejabat publik sepenuhnya bersumber dari keringat masyarakat melalui bayar pajak.
“Gaji yang Anda pakai itu dari pajak rakyat! Pakaian Anda, sepatu Anda, kaos kaki Anda dibayar pakai uang rakyat! Seorang pejabat publik harus bisa menjaga kata-katanya, jangan sakiti rakyat,”* tegas salah seorang perwakilan warga di lokasi aksi dengan nada geram.
Pantauan di lapangan menunjukkan, warga tidak hanya berorasi. Sebagai bentuk tamparan atas absennya pemerintah provinsi, warga secara swadaya mengumpulkan urunan dari kantong pribadi untuk mendatangkan sekitar 10 rit (truk) batu grosok guna menambal lubang-lubang jalan yang menganga lebar.
“Ini uneg-unegnya warga masyarakat Randublatung dikeluarkan dalam aksi ini. Grosok ini dana swadaya masyarakat. Mungkin ada sekitar 10 rit, jalan sepanjang sekitar 3 kilometer,” ujar Sunoto, salah seorang warga setempat yang ikut turun ke jalan.
Ruas Randublatung – Cepu sebenarnya merupakan urat nadi perekonomian yang sangat vital. Jalur provinsi ini menjadi rute alternatif utama yang menghubungkan Cepu menuju Purwodadi (Grobogan) karena memotong jarak tempuh dan menghemat bahan bakar dibandingkan harus memutar jauh lewat Blora Kota.
Arip, seorang pengendara sepeda motor yang kerap melintas, menyebutkan bahwa kepadatan jalur ini sangat tinggi oleh kendaraan logistik nasional.
“Menurut saya ini jalan utama buat ekspedisi, buat distributor barang-barang itu dari timur ke barat, dari barat ke timur. Banyak truk-truk juga bawa logistik dari Jawa Barat, Surabaya, jalan sini padat,” tuturnya.
Namun, tingginya kontribusi jalur ini terhadap ekonomi daerah berbanding terbalik dengan perhatian yang diberikan oleh Pemprov Jateng. Kerusakan masif di sepanjang jalur tersebut telah menciptakan ancaman maut saban hari:
Menurut kesaksian Wawan, warga lainnya, kecelakaan tunggal akibat pengendara yang terperosok ke lubang dalam atau slip di permukaan jalan yang licin sudah menjadi tontonan sehari-hari.
Belum lama ini, kecelakaan hebat melibatkan mobil Avanza dan truk terjadi di jalur tersebut akibat penyempitan ruas jalan yang rusak. Tak hanya itu, armada bermuatan berat juga kerap ambles di bahu jalan.
Melalui aksi tanam pohon pisang,Pepaya dan pengurukan mandiri ini, warga Randublatung mengirimkan sinyal darurat langsung ke ruang kerja Gubernur Ahmad Luthfi dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPUBMCK) Jateng.
Masyarakat menegaskan, mereka sudah kenyang dengan proyek tambal sulam yang akan kembali hancur dalam hitungan minggu. Warga menuntut hak mereka sebagai pembayar pajak: perbaikan permanen berupa betonisasi total! Warga bertekad akan terus menggelar aksi dan mengawal kasus ini hingga alat berat dari provinsi benar-benar diturunkan ke lokasi. *(TJ/Red)*
Penulis : Agung
Editor : Redaksi











