DEMAK – Di tengah maraknya keluhan warganet terkait infrastruktur jalan yang rusak di media sosial, sekelompok pemuda di Kabupaten Demak memilih cara yang berbeda untuk bersuara. Alih-alih hanya mengetik kritik di kolom komentar, mereka turun langsung ke jalan untuk melakukan perbaikan secara swadaya.

Selama dua malam berturut-turut, mulai tanggal 24 hingga 25 Februari 2026, kawasan jalan protokol Demak mendadak ramai oleh aksi pemuda yang membawa sekop dan pasir. Gerakan yang diinisiasi oleh akun @suted.soekarno ini menyasar lubang-lubang membahayakan di sepanjang jalur Terminal hingga Jalan Pemuda.
Yang menarik, aksi ini tidak menggunakan dana pemerintah sepeser pun. Seluruh biaya pengadaan material, mulai dari pasir hingga peralatan, berasal dari hasil patungan para pemuda dan donasi warga yang peduli terhadap keselamatan berkendara.
“Ada donatur yang ingin disebutkan namanya, ada yang tidak. Yang pasti, motivasi kami satu: ingin Demak lebih aman bagi pengendara,” ujar salah satu pemuda yang ikut berkeringat di lokasi saat waktu sahur.
Aksi “turun tangan” para pemuda ini secara tidak langsung menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak. Gerakan swadaya ini dianggap sebagai bentuk mosi tidak percaya sekaligus pengingat nyata bagi Bupati Demak, Ibu Eisti’anah, dan jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat.
Saat warga sipil merasa harus patungan demi menambal jalan protokol, publik mulai mempertanyakan efektivitas alokasi anggaran pemeliharaan jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Keselamatan di jalan raya adalah hak setiap warga. Aksi inspiratif para pemuda ini diharapkan menjadi pemantik bagi pemangku kebijakan untuk lebih responsif terhadap fasilitas publik sebelum memakan korban jiwa.
Penulis : Angga
Editor : Redaksi











