Deklarasi Lawan Sengketa, Warga Tembalang Bersatu Pertahankan Hak Tanah

- Penulis

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semarang, 1 Mei 2026– Ratusan warga Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, hari ini menggelar aksi deklarasi massal untuk mempertahankan hak atas tanah mereka yang tengah terancam sengketa. Gelombang solidaritas menggema di lokasi aksi, menegaskan sikap tegas warga yang merasa hak kepemilikannya tengah terusik.

Kronologis sengketa tanah di Bulusan berawal dari munculnya klaim atas lahan yang telah lama ditempati warga. Sebagian besar warga mengaku telah menempati dan mengelola tanah tersebut selama puluhan tahun, bahkan telah mengantongi Sertifikat Hak Milik (SHM) yang diterbitkan secara resmi.

Situasi mulai memanas ketika muncul pihak lain yang mengklaim kepemilikan atas lahan yang sama, disertai dengan upaya hukum dan administrasi yang dinilai warga merugikan posisi mereka. Sejak saat itu, warga mulai merasakan ketidakpastian hukum, termasuk adanya kekhawatiran kehilangan tempat tinggal yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.

Berbagai upaya telah dilakukan warga, mulai dari mediasi hingga pendampingan hukum. Namun, karena belum menemukan titik terang, warga akhirnya memilih bersatu dalam aksi kolektif untuk memperjuangkan hak mereka secara terbuka.

Sejak pukul 09.00 WIB, warga dari berbagai penjuru Bulusan memadati lokasi aksi. Dengan membawa spanduk dan semangat kebersamaan, mereka menyuarakan satu tuntutan keadilan dan kepastian hukum atas tanah yang telah mereka tempati selama puluhan tahun.

Momentum aksi semakin kuat dengan penandatanganan deklarasi massal yang dilakukan secara simbolis oleh warga, disaksikan sejumlah awak media dan tim kuasa hukum yang turut mendampingi. Dalam deklarasi tersebut, warga menegaskan bahwa Sertifikat Hak Milik (SHM) yang mereka pegang adalah bukti sah kepemilikan, sekaligus simbol harga diri dan masa depan keluarga.

“Kami tidak sedang merebut hak orang lain. Kami hanya mempertahankan apa yang secara hukum adalah milik kami,” tegas salah satu perwakilan warga dalam orasinya.

Warga menilai situasi yang mereka hadapi saat ini sebagai bentuk ketidakadilan yang berpotensi merampas hak dasar masyarakat. Mereka bahkan menyebut kondisi ini sebagai “Tragedi Bulusan” yang perlu mendapat perhatian serius, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi hingga nasional.

Sebagai langkah konkret, warga bersama tim kuasa hukum telah menyiapkan jalur advokasi dengan mengirimkan surat kepada sejumlah lembaga tinggi negara, antara lain Presiden Republik Indonesia, DPR RI, Mahkamah Agung (MA), Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN), serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Tim kuasa hukum menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini melalui langkah hukum yang terukur dan berkelanjutan. Mereka juga menilai peran media sangat krusial dalam membuka ruang transparansi serta mengangkat suara warga ke ranah publik yang lebih luas.

Aksi berlangsung damai dan tertib, dengan warga yang tampak kompak dan solid hingga kegiatan berakhir. Semangat kolektif yang ditunjukkan menjadi sinyal kuat bahwa perjuangan belum usai. Melalui deklarasi ini, warga Bulusan menegaskan satu hal: mereka tidak akan mundur dalam memperjuangkan hak atas tanah yang mereka yakini sah, hingga keadilan benar-benar ditegakkan.

 

Penulis : Agung

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendingjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diduga Timbulkan Bau Menyengat, Operasional SPPG Bandung Wonosegoro 2 Disorot Warga, Hasil Uji DLH Dinanti
Lapas Kelas I Semarang Gagalkan Penyelundupan Narkoba Modus Lempar Paket, Pengamanan Langsung Diperketat
Rumah dan Kamar Berantakan Menurut Feng Shui: Benarkah Bisa Menghambat Rezeki dan Keharmonisan?
Calon Taruna Asal Papua Barat Meninggal Dunia Setelah Terjatuh di Gedung Hoegeng Akpol Semarang, Polisi Selidiki Penyebabnya
Oknum Polisi Perbantuan di KPK Terseret Kasus Dugaan Pemerasan Bupati Pemalang
Wanita Muda di Semarang Diduga Dianiaya di Rumah Sendiri, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Polsek Jepara Kota Diduga Lakukan Pembiaran dan Abaikan Aduan Masyarakat Terkait Dugaan Penyalahgunaan BBM Pertalite
Bupati Pemalang Terjaring OTT KPK, Ruang DPUPR dan Rumah Kerabat Disegel
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:44 WIB

Diduga Timbulkan Bau Menyengat, Operasional SPPG Bandung Wonosegoro 2 Disorot Warga, Hasil Uji DLH Dinanti

Rabu, 5 Agustus 2026 - 09:51 WIB

Lapas Kelas I Semarang Gagalkan Penyelundupan Narkoba Modus Lempar Paket, Pengamanan Langsung Diperketat

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:30 WIB

Rumah dan Kamar Berantakan Menurut Feng Shui: Benarkah Bisa Menghambat Rezeki dan Keharmonisan?

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:13 WIB

Calon Taruna Asal Papua Barat Meninggal Dunia Setelah Terjatuh di Gedung Hoegeng Akpol Semarang, Polisi Selidiki Penyebabnya

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:01 WIB

Oknum Polisi Perbantuan di KPK Terseret Kasus Dugaan Pemerasan Bupati Pemalang

Berita Terbaru